Selasa, 11 November 2014

Apakah Gereja Katolik Mengajarkan Adanya Iblis/ Setan?

Ya, karena Tuhan Yesuspun mengajarkan demikian (lih. Mat 4:1-11; 12:22-30; Mrk 1:34; Luk 10:18;22:31; Yoh 8:44). Maka Gereja Katolik selalu mengajarkan bahwa iblis itu ada, dan bukan hanya mitos.

Konsili Lateran yang ke-empat (1215), dalam dekritnya yang mengecam ajaran sesat Manichaeism yang mengajarkan dualisme, dan Catharist. Konsili tersebut mengajarkan bahwa "iblis dan roh-roh jahat lainnya diciptakan baik pada awalnya, hanya mereka menjadi jahat oleh karena tindakan mereka sendiri". Ini adalah pernyataan Gereja untuk meluruskan ajaran sesat yang mengajarkan dualisme yang mengajarkan keberadaan dua Tuhan: yaitu Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat (iblis) sejak awal mula.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:
KGK 391   Di balik keputusan nenek moyang kita untuk membangkang terdengar satu suara penggoda yang bertentangan dengan Allah (Bdk. Kej 3:1-5).,
yang memasukkan mereka ke dalam maut karena iri hati (Bdk. Keb 2:24). Kitab Suci dan tradisi melihat dalam wujud ini seorang malaikat yang jatuh, yang dinamakan setan atau iblis (Bdk. Yoh 8:44; Why 12:9). Gereja mengajar bahwa ia pada mulanya adalah malaikat baik yang diciptakan Allah. "Setan dan roh-roh jahat lain menurut kodrat memang diciptakan baik oleh Allah, tetapi mereka menjadi jahat karena kesalahan sendiri" (Konsili Lateran IV, 1215: DS 800).
KGK 2851 ... kejahatan bukanlah hanya satu pikiran, melainkan menunjukkan satu pribadi, setan, si jahat, malaikat yang berontak terhadap Allah. "Iblis" [diabolos]melawan keputusan ilahi dan karya keselamatan yang dikedakan di dalam Kristus.
Ajaran Gereja Katolik tentang keberadaan iblis/ setan sangat jelas terlihat dalam liturgi. Pada perayaan Baptisan, mereka yang dibaptis diminta untuk menyatakan penolakan terhadap setan, dan perbuatan-perbuatannya, dan janji-janjinya yang kosong. Gereja Katolik juga menyediakan ritus resmi pengusiran setan (eksorsisme), sehingga ini menunjukkan bahwa Gereja percaya bahwa setan itu ada.
St. Thomas Aquinas yang dianggap sebagai guru besar dalam sistematika Teologi Katolik dalam bukunya Summa Theology, juga menjabarkan tentang keberadaan iblis/ setan ini. Mereka disebut sebagai para malaikat yang jatuh dalam dosa, dan St. Thomas menjelaskan artinya (lih. Summa Theology Part I, q.63, a.1-9).
Tahun 1975, Kongregasi Suci untuk Penyembahan Ilahi mengeluarkan dokumen yang disebut Christian Faith and Demonology. Dokumen ini mengutip ajaran Paus Paulus VI tentang setan:
"Adalah suatu penyimpangan dari gambaran yang diberikan oleh Kitab Suci dan ajaran Gereja, [suatu paham]yang menolak untuk mengenali keberadaan setan; untuk menganggapnya sebagai.... sebuah konsep dan personifikasi imajiner (tak nyata) dari sebab-sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita.... Para ahli Kitab Suci dan Teologi harus tidak menjadi tuli untuk mendengar peringatan ini."
St. Paus Yohanes Paulus II, dalam General Audience tanggal 13 Agustus 1986, menjelaskan tentang asal usul setan, demikian:
"Ketika, oleh sebuah tindakan kehendak bebasnya, ia menolak kebenaran bahwa ia mengenal tentang Allah, setan menjadi "pembohong dan bapa segala kebohongan" (lih. Jn 8:44) melampaui ruang dan waktu. Karena alasan ini, ia hidup dalam penyangkalan radikal dan tak dapat dibalikkan lagi, terhadap Allah, dan berusaha untuk memaksakan pengaruh kepada ciptaan - kepada semua mahluk yang diciptakan menurut gambar Allah dan secara khusus manusia- kebohongan dirinya sendiri yang tragis tentang apa yang baik yaitu Tuhan."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar