Konsili Lateran yang ke-empat (1215), dalam dekritnya yang mengecam ajaran sesat Manichaeism yang mengajarkan dualisme, dan Catharist. Konsili tersebut mengajarkan bahwa "iblis dan roh-roh jahat lainnya diciptakan baik pada awalnya, hanya mereka menjadi jahat oleh karena tindakan mereka sendiri". Ini adalah pernyataan Gereja untuk meluruskan ajaran sesat yang mengajarkan dualisme yang mengajarkan keberadaan dua Tuhan: yaitu Tuhan yang baik dan Tuhan yang jahat (iblis) sejak awal mula.
Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:
KGK 391 Di balik keputusan nenek moyang
kita untuk membangkang terdengar satu suara penggoda yang bertentangan
dengan Allah (Bdk. Kej 3:1-5).,
yang memasukkan mereka ke dalam maut
karena iri hati (Bdk. Keb 2:24). Kitab Suci dan tradisi melihat dalam
wujud ini seorang malaikat yang jatuh, yang dinamakan setan atau iblis
(Bdk. Yoh 8:44; Why 12:9). Gereja mengajar bahwa ia pada mulanya adalah
malaikat baik yang diciptakan Allah. "Setan dan roh-roh jahat lain
menurut kodrat memang diciptakan baik oleh Allah, tetapi mereka menjadi
jahat karena kesalahan sendiri" (Konsili Lateran IV, 1215: DS 800).
KGK 2851 ... kejahatan bukanlah hanya
satu pikiran, melainkan menunjukkan satu pribadi, setan, si jahat,
malaikat yang berontak terhadap Allah. "Iblis" [diabolos]melawan
keputusan ilahi dan karya keselamatan yang dikedakan di dalam Kristus.St. Thomas Aquinas yang dianggap sebagai guru besar dalam sistematika Teologi Katolik dalam bukunya Summa Theology, juga menjabarkan tentang keberadaan iblis/ setan ini. Mereka disebut sebagai para malaikat yang jatuh dalam dosa, dan St. Thomas menjelaskan artinya (lih. Summa Theology Part I, q.63, a.1-9).
Tahun 1975, Kongregasi Suci untuk Penyembahan Ilahi mengeluarkan dokumen yang disebut Christian Faith and Demonology. Dokumen ini mengutip ajaran Paus Paulus VI tentang setan:
"Adalah suatu penyimpangan dari gambaran
yang diberikan oleh Kitab Suci dan ajaran Gereja, [suatu paham]yang
menolak untuk mengenali keberadaan setan; untuk menganggapnya
sebagai.... sebuah konsep dan personifikasi imajiner (tak nyata) dari
sebab-sebab yang tak diketahui dari kemalangan kita.... Para ahli Kitab
Suci dan Teologi harus tidak menjadi tuli untuk mendengar peringatan
ini."
St. Paus Yohanes Paulus II, dalam General Audience tanggal 13 Agustus 1986, menjelaskan tentang asal usul setan, demikian:
"Ketika, oleh sebuah tindakan kehendak
bebasnya, ia menolak kebenaran bahwa ia mengenal tentang Allah, setan
menjadi "pembohong dan bapa segala kebohongan" (lih. Jn 8:44) melampaui
ruang dan waktu. Karena alasan ini, ia hidup dalam penyangkalan radikal
dan tak dapat dibalikkan lagi, terhadap Allah, dan berusaha untuk
memaksakan pengaruh kepada ciptaan - kepada semua mahluk yang diciptakan
menurut gambar Allah dan secara khusus manusia- kebohongan dirinya
sendiri yang tragis tentang apa yang baik yaitu Tuhan."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar